pilihan dalam catur
cara master mengeliminasi jutaan kemungkinan dalam sekejap
Pernahkah kita berdiri di depan rak minimarket selama lima menit penuh, hanya untuk memilih rasa mi instan? Padahal pilihannya cuma soto, kari, atau mi goreng. Kepala rasanya penuh. Kita menimbang-nimbang rasa, harga, hingga kalori.
Nah, sekarang coba bayangkan kita duduk menghadapi papan catur. Setelah langkah pertama dari masing-masing pemain, ada 400 kemungkinan posisi yang bisa terjadi. Setelah kita melangkah tiga kali, jumlah kemungkinannya meledak menjadi sekitar sembilan juta. Matematikawan Claude Shannon pernah menghitung bahwa total variasi permainan catur secara teoretis lebih banyak daripada jumlah atom di alam semesta yang dapat diamati. Angka yang bikin sakit kepala, bukan?
Tapi anehnya, seorang grandmaster bisa melirik papan catur selama tiga detik saat berjalan lewat, dan langsung tahu mana langkah yang terbaik. Pertanyaannya, bagaimana otak manusia yang rentan bingung memilih mi instan ini bisa memproses jutaan kemungkinan di atas papan catur hanya dalam sekejap mata?
Kalau kita bertanya pada orang awam, jawabannya mungkin terdengar klise. Mereka genius. Mereka punya IQ tinggi. Mereka bisa melihat dua puluh langkah ke depan layaknya Doctor Strange yang memindai masa depan.
Dulu, para perintis ilmu komputer juga berpikir persis seperti itu. Saat mereka menciptakan mesin catur pertama, cara kerjanya murni mengandalkan tenaga komputasi kotor atau brute force. Mesin diprogram untuk menghitung jutaan kombinasi langkah secara membabi buta, mencari semua kemungkinan cabang, lalu memilih yang probabilitas menangnya paling tinggi.
Tapi di tahun 1960-an, para psikolog kognitif mulai menyadari satu hal yang amat janggal. Otak manusia tidak bekerja seperti mesin komputer. Kapasitas memori kerja kita sangatlah terbatas. Rata-rata kita cuma bisa secara aktif mengingat tujuh hal dalam satu waktu. Jadi, secara biologis mustahil seorang manusia, segenius apa pun dia, menghitung jutaan cabang kemungkinan di dalam kepalanya.
Ada rahasia lain yang disembunyikan oleh para master catur ini. Sebuah trik di dalam otak yang membuat mereka bisa seolah-olah "meretas" keterbatasan memori manusia biasa.
Untuk memecahkan misteri ini, seorang psikolog sekaligus master catur asal Belanda, Adriaan de Groot, melakukan sebuah eksperimen klasik yang sangat elegan.
Dia mengumpulkan para pemain catur pemula dan para grandmaster. De Groot lalu menunjukkan sebuah papan catur dengan posisi bidak yang diambil dari pertandingan sungguhan. Mereka hanya boleh melihatnya selama beberapa detik. Hasilnya tentu bisa ditebak. Para master bisa mengingat dan menyusun ulang posisi bidak-bidak itu dengan akurasi hampir sempurna. Pemula? Ingatannya berantakan.
Ah, berarti para master ini memang punya ingatan fotografis yang super, kan? Tunggu dulu. De Groot kemudian melakukan eksperimen kedua.
Kali ini, bidak-bidak catur disebar secara acak di atas papan. Posisinya absurd, melanggar aturan, dan tidak akan pernah terjadi dalam pertandingan nyata. Coba tebak apa yang terjadi?
Kehebatan magis para grandmaster itu mendadak menguap. Mereka tiba-tiba menjadi sama payahnya dengan para pemula dalam mengingat posisi bidak. Pertanyaan besarnya: kenapa ingatan super mereka tiba-tiba mati kutu hanya karena posisinya diacak?
Jawabannya terletak pada sebuah konsep psikologi luar biasa yang disebut chunking atau pengelompokan informasi.
Para master tidak melihat papan catur sebagai 32 bidak yang berdiri sendiri-sendiri di atas 64 kotak. Melalui puluhan ribu jam latihan, otak mereka telah membentuk sebuah kamus pola visual yang sangat masif. Saat melihat papan catur, mereka tidak melihat "kuda putih di F3" dan "menteri hitam di D8". Mereka melihat sebuah struktur utuh. Sebuah narasi pertempuran.
Sama seperti saat kita membaca tulisan ini. Teman-teman tidak mengeja huruf "C-E-R-I-T-A" satu per satu, melainkan langsung menangkap makna dari kata "CERITA".
Inilah alasan utama mengapa mereka gagal total di eksperimen kedua. Saat bidak diacak tanpa tata bahasa permainan yang logis, pola itu hancur. Otak mereka tidak mengenali "kata" atau "kalimat" di atas papan catur tersebut.
Jadi, rahasia besar bagaimana para master mengeliminasi jutaan kemungkinan dalam sekejap bukanlah dengan menghitung jauh ke masa depan. Mereka justru memanggil masa lalu. Saat melihat sebuah pola di atas papan, otak mereka secara otomatis membuang 99 persen langkah yang tidak relevan. Dari jutaan kemungkinan teoritis itu, radar mereka langsung mengunci pada dua atau tiga langkah logis yang sudah teruji oleh memori jangka panjang dan pengalaman masa lalu mereka.
Mempelajari cara kerja otak para master catur ini sebenarnya memberikan rasa lega yang luar biasa bagi kita.
Kita sadar bahwa kita tidak perlu menjadi superkomputer yang harus menghitung setiap detail konsekuensi dari pilihan-pilihan kita. Dalam hidup sehari-hari, kadang kita merasa sangat kewalahan karena mencoba memproses terlalu banyak kemungkinan. Kita sering terjebak dalam overthinking, memikirkan semua cabang masa depan yang belum tentu terjadi.
Padahal, kita bisa meniru cara kerja otak para master. Kita bisa mulai fokus untuk mengenali pola. Mengumpulkan pengalaman demi pengalaman, belajar dari kesalahan, sampai akhirnya hal itu mengendap menjadi sebuah insting. Semakin banyak kita belajar dan terpapar pada berbagai situasi hidup, otak kita secara alamiah akan membangun kamus chunking versinya sendiri.
Jadi, besok-besok saat teman-teman merasa pusing menghadapi banyak pilihan, ingatlah bahwa keterbatasan otak itu sangat manusiawi. Kita bukan kewalahan karena kita kurang pintar. Kita mungkin hanya belum menemukan polanya saja. Dan untungnya, sama seperti catur, hidup adalah permainan panjang di mana kita selalu punya kesempatan untuk belajar mengenali pola, satu langkah demi satu langkah.